Chevron Bakal "Pesta" Minyak Venezuela Setelah Trump Singkirkan Maduro?

Perusahaan minyak AS Chevron.


ANDALASNOW.COM - Serangan Amerika Serikat (AS) ke Caracas dan penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro membuat negara Amerika Selatan itu berada dalam situasi penuh kebingungan dan ketidakpastian.

Presiden AS Donald Trump, sesaat setelah operasi tersebut, menyatakan bahwa AS akan "mengelola" Venezuela. Pernyataan itu tampaknya ingin memberitahukan tentang bagaimana Washington akan menangani komoditas utama negara itu, yakni minyak.


"Kami akan mengirim perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat, yang terbesar di dunia, untuk masuk ke sana, menginvestasikan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, terutama infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang bagi negara tersebut," kata Trump.



Sejauh mana keterlibatan perusahaan minyak AS di Venezuela?


Sepanjang abad ke-20, AS merupakan mitra utama sektor minyak Venezuela, dengan perusahaan-perusahaan besar AS menanamkan investasi besar di negara itu.


Namun, hampir semua perusahaan tersebut hengkang setelah revolusi Chavez, kecuali Chevron.


Meski terkena dampak sanksi, Chevron memperoleh lisensi khusus dari pemerintahan Joe Biden pada 2022 untuk kembali mengekspor minyak Venezuela dengan syarat ketat. Langkah ini bertujuan meredakan tekanan pasar minyak global setelah invasi Rusia ke Ukraina.


Pada Oktober tahun ini, pemerintahan Trump memberikan kembali izin kepada Chevron untuk memproduksi minyak di Venezuela, dengan alasan perusahaan AS tersebut merupakan mitra penting bagi Caracas.


Chevron menjadi pihak yang paling berpotensi diuntungkan jika Trump membuka kembali pintu investasi AS di Venezuela. Saat ini, Chevron mempekerjakan sekitar 3.000 orang di negara tersebut. Dalam pernyataannya, Chevron menyebut akan beroperasi "dengan mematuhi sepenuhnya seluruh hukum dan peraturan yang berlaku", tetapi tidak mengomentari kemungkinan ekspansi bisnis.


Trump juga menyatakan perusahaan-perusahaan minyak besar AS akan kembali ke Venezuela, termasuk ExxonMobil dan ConocoPhillips.


ExxonMobil, perusahaan minyak terbesar AS, asetnya disita oleh pemerintahan Chavez pada 2007. Proyek-proyek ConocoPhillips di Hamaca, Petrozuata, dan Corocoro juga mengalami nasib serupa. Kedua perusahaan memenangkan kompensasi bernilai miliaran dolar dalam arbitrase internasional, tetapi hingga kini Venezuela belum membayarnya. Inilah yang menjadi dasar klaim Trump tentang "minyak yang dicuri".


"Kami membangun industri minyak Venezuela dengan bakat, dorongan, dan keahlian Amerika, lalu rezim sosialis mencurinya dari kami pada pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Mereka mencurinya dengan kekerasan," kata Trump.


"Ini merupakan salah satu pencurian properti Amerika terbesar dalam sejarah negara kami," tambahnya.


ConocoPhillips menyatakan sedang "memantau perkembangan di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap pasokan dan stabilitas energi global". Perusahaan itu menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk berspekulasi mengenai aktivitas bisnis atau investasi di masa depan.***

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama